Bisa Anda bayangkan, saat ini, seorang siswa taman kanak-kanak sudah dipaksa untuk membaca lancar seperti kita sekarang membaca! Mereka juga dipaksa untuk menghitung seperti kita sekarang menghitung! Masa-masa TK seharusnya dilalui dengan bermain dan bergembira, bukan untuk memikul beban yang berlebihan.
Lihat cara ibu guru TK mengajari anak-anak kita mewarnai gambar. Anak kita “diharuskan” memberi warna hitam pada rambut manusia. Mereka juga “dibimbing” memberi warnah merah-putih untuk bendera, biru untuk langit, hijau untuk daun. Padahal, tepat di depan wajah anak-anak itu tergelatak belasan pensil atau krayon warna-warni. Mengapa anak-anak kita tidak diperbolehkan memberi warna hijau, merah, atau kuning pada rambut manusia? Mengapa warna bendera hanya merah-putih? Bukankah mereka punya warna biru dan pink? Atau abu-abu dan kuning? Dan, seterusnya dan seterusnya.
Dalam sebuah acara Lomba Mewarnai Gambar untuk anak-anak TK, seorang ibu memberi semacam “pengarahan” kepada putrinya yang akan ikut lomba, harus begini harus begitu. Bahkan, sikap duduk si anakpun diatur sedemikian rupa. Si anak manggut-manggut sambil matanya melihat kiri kanan.
Kondisi belajar seperti itu merata dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Makanya, sangat luarbiasa kalau ada seseorang yang akhirnya bisa menamatkan “pelajarannya” di perguruan tinggi. Dia begitu tahan terhadap suasana belajar yang tidak menyenangkan, monoton, dan penuh intimidasi itu. Di rumah, dia “ditindas” dan di sekolah dia “disiksa”.
Itulah barangkali yang membuat kita jadi kurang begitu suka belajar. Mengerjakan PR dan tugas sekolah lainnya pun jadi beban. Bahkan, datang ke sekolah, untuk sebagian siswa, sekedar untuk menyenangkan hati orangtua saja. Ya, seharusnya diciptakan metode belajar yang menyenangkan, yang bisa membuat siapa saja jadi ingin belajar. Perlu diciptakan suasana gembira, yang membuat belajar jadi pekerjaan yang mengasyikkan, jadi semacam kebutuhan yang terus diharapkan.